Penulis: Animax

Pentingnya Pendidikan Berkarakter

Proses pembelajaran yang masih menekankan penguasaan materi dan lebih terlihat lagi adalah target evaluasi yang masih bertumpu pada angka-angka menunjukkan bahwa konsep pendidikan masih berkutat pada peningkatan dimensi kognitif, tapi lemah pada dimensi yang lain, seperti psikomotorik dan afektif.

Bahkan, secara nasional, keberhasilan pendidikan diukur melalui pengujian materi yang hanya berisi aspek kognitif saja. Hal ini terbukti pada pelaksanaan Ujian Nasional. Sedangkan pendidikan yang lain, seperti akhlak, kekerasan, belum tersentuh. Ini yang menjadi sebab pentingnya pendidikan berkarakter.

Pendidikan karakter juga belum diimplementasikan dalam kurikulum yang dijadikan acuan dalam kegiatan pembelajaran. Yang ada hanyalah siswa dididik untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan mendapatkan prestasi yang bagus. Akhirnya lulusan yang dihasilkan kurang memiliki karakter yang jelas jadi anda butuh belajar untuk mengenali diri sendiri. Bahkan lulusan yang dihasilkan masih jauh dari yang diharapkan oleh masyarakat, baik dari segi mentalitas maupun moralitas.

Lulusan yang memiliki nilai yang bagus belum tentu memiliki moralitas dan mentalitas yang bagus. Konsep pendidikan yang tidak hanya mengacukepada nilai seharusnya sudah dilaksanakan oleh lembaga pendidikan agar manusia Indonesia memiliki karakter yang jelas. Jangan sampai generasi mendatang sama saja dengan generasi-generasi sebelumnya yang belum sadar terhadap nilai-nilai sosial yang seharusnya dibangun.

Jenguk Teman Sakit, Tambah Bersyukur

Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi salah seorang teman saya yang sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta. Dia adalah salah satu Senior Resident di asrama mahasiswa UMY yang saya tempati.

Saya dan beberapa  teman dari asrama berencana menjenguk menggunakan sepeda motor selepas sholat maghrib. Sampai di Rumah Sakit kami menunaikan sholat isya sebelum menuju kamar teman saya ini. Teman saya dirawat di Paviliun Ayodya, wew saya mendengar nama paviliun sudah membayangkan berapa biaya menginap permalamnya.

Tidak seperti ketika saya pernah ke Kelas 3 sebuah Rumah Sakit yang ramai. Sepanjang lorong di paviliun ini sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk-duduk diteras kamar. Sayang sekali saya mendapati dua orang bapak yang dengan santai merokok ditengah-tengah lorong. Ingin sekali rasanya saya menegur mereka, tapi tidak jadi karena memang saya sepertinya tidak menemui tulisan “dilarang merokok”.

Masuk ke ruangan Ayodya, di papan nama tertulis nama teman saya dan kamarnya, kami langsung menuju kamar dengan nomer tersebut. Sebuah kamar dengan fasilitas yang menurut saya wah. Konsentrasi saya untuk menjenguk teman saya ini ternyata tergantikan dengan fasilita yang ada di Rumah Sakit ini. Ditambah teman saya menanyakan kira-kira berapa biayanya?

Hlaa… sebenarnya saya membicarakan apa?

Saya sadar ternyata sakit itu mahal, mungkin ini dulu yang juga pernah saya pikirkan dan ramai bahwa “orang miskin dilarang sakit”. Akhirnya, Saya yang cuma terkena pilek saja sudah lemes, tidak berani periksa ke Rumah Sakit karena takut biayanya mahal. Cukup dengan kerokan, beli obat di warung, tapi ternyata hampir dua minggu batuk tak kunjung sembuh.

Yang ternyata juga banyak mengeluarkan uang juga, padahal biasanya kalau beli bakso juga g pernah dihitung-hitung ha ha. Tapi dengan menjenguk teman saya yang di rumah sakit ini, kemudian saya berpikir, dengan fasilitas seperti itu berarti saya harus bersyukur diberi kesehatan yang nilainya tak pernah bisa dihitung dengan rupiah.

Ya, nikmat sehat itu memang harus disyukuri. Karena seperti yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang. Ketika pilek saja, kegiatan saya terganggu, bagaimana misal saya opname di Rumah Sakit, janganlah. Maka dari itulah mari kita jaga kesehatan kita agar kita bisa menggunakan waktu dengan baik. 

Pentingnya Meminimalisir Pertemanan di Facebook

Ada sekitar 800 teman di facebook saya yang saya pikir tidak ada seratus yang benar-benar aktif berfacebook. Atau memang benar apa yang dikatakan teman saya bahwa tidak semua pembaruan dari teman-teman di facebook saya itu masuk di dinding saya.

Seperti update status dari mereka misalnya, sepertinya setiap hari yang update status yang masuk ke dinding saya ya orang-orang itu saja, mungkin tidak lebih dari 100 orang. Hal inilah yang akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk meminimalisir pertemanan di facebook. Daripada memiliki teman 800 tapi tidak jelas, lebih baik saya kurangi jumlahnya dan saya pilih siapa yang seharusnya berteman dengan saya.

Pernah suatu kali saya mengajak chatting salah seorang teman di facebook, dengan enaknya dia bertanyaIni siapa?”. Rasanya JLEB banget dah, akhirnya saya putuskan saja untuk remove dia dari pertemanan saya, ekstrim memang sepertinya, tapi hal ini menurut saya lebih baik karena pendapat saya teman-teman di facebook seharusnya adalah orang-orang yang jelas kenal dengan siapa saya.

Pernah suatu kali karena tidak enak meremove orang, saya memutuskan untuk membuat akun facebook baru dan saya khususkan hanya untuk orang yang saya temui di dunia nyata. Tapi hal ini ternyata tidak efektif karena saya harus mengurus dua akun sekaligus, akhirnya akun baru itu saya hapus lagi saja.

Solusi akhirnya adalah teman-teman saya yang tidak saya kenal saya remove ketika setiap hari di facebook ada pemberitahuan siapa yang ulang tahun. Dari sanalah saya melihat satu-persatu yang ulang tahun apakah saya kenal atau tidak.

Jika saya kenal saya berikan ucapan selamat, dan bagi yang saya tidak kenal akhirnya terpaksa saya remove dari pertemanan saya. Bukannya saya bermaksud sombong, tapi hal ini saya rasa lebih baik. Jika orang-orang yang saya remove itu masih ingin mendapatkan pembaruan dari saya, status misalnya, mereka masih bisa berlangganan dengan saya, atau bisa like halaman facebook atau facebook fanpage saya.

Oh ya, masih ada lagi, jika setiap hari misal ada yang nge add saya menjadi temannya, itu juga saya seleksi. Jika misal saya tidak mengenalnya sama sekali langsung saya pilih Lain kali. Karena menurut saya meminimalisir pertemanan di facebook itu penting agar kualitas pertemanan di facebook itu jelas. Bagaimana dengan anda?

Pentingnya Mengenali Diri Sendiri

Pertanyaan yang sebenarnya harus sudah dengan mudah kita jawab….

Karena kita semua tentunya harus mengenali siapa kita sebenarnya. Tapi bagi saya, ternyata pertanyaan ini masih saja membuat saya harus memutar otak untuk menjawabnya. Sebenarnya siapa diri saya sebenarnya, maaf ini bukan masalah saya anak siapa dan darimana, tapi bakat, potensi apa yang sebenarnya saya miliki.

Mungkin jawaban yang saya berikan adalah bahwa saya seorang mahasiswa, tapi apa bangganya seorang mahasiswa. Saya seorang blogger, mikir juga selama ini saya jadi blogger juga asal-asalan. Saya seorang online marketing, hah… serius tuh? Apa yang saya jual coba.. hhmm…. Inilah mengapa kita harus tahu betapa pentingnya mengenali diri sendiri.

Jika kita mau berpikir sekali lagi sebenarnya banyak sekali potensi yang kita miliki. Dari fisik saja misalnya, Alhamdulillah saya dianugerahi fisik lengkap dan berfungsi dengan baik. Tangan saya bisa saya gunakan untuk mengetik di blog ini kemudian anda membacanya, mata saya juga tidak perlu menggunakan alat bantuan untuk membaca, telinga, dan lain-lain, semua sepertinya masih berfungsi normal.

Potensi intelektual, hhmm,,, apa ya? Saya bisa ngeblog, saya juga bisa membuat tulisan walaupun g mutu, IPK juga tidak jelek-jelek amat. Potensi moral dan spriritual, Alhamdulillah sejak lahir beragama Islam, baca Al Qur’an bisa dong. Dengan segenap potensi itu sebenarnya saya tidak harus mengeluh dan bisa menemukan jati diri saya ya? Tapi lagi-lagi saya harus berpikir apa yang bisa dibanggakan dari diri saya. pfuuh….

Apa ini tanda bahwa saya belum mengenali siapa diri saya? Kalau begitu bagaimana saya bisa menjual diri saya karena kata salah seorang teman saya bahwa personal branding itu penting. Bagaimana saya mengajukan proposal saya misalnya ketika saya akan melamar seseorang untuk saya jadikan pendamping? Ya, mulai hari ini saya harus menggali siapa diri saya sebenarnya. Saya harus bisa menggambarkan diri misalnya ketika ditanya “Gambarkan kepribadian anda melalui seekor hewan” Saya harus sudah siap menjawab kalau diri saya ini seperti singa yang raja hutan, atau tupai yang pandai meloncat, atau bebek yang mudah diatur. 

Lagi-lagi tulisan galau terpaksa menjadi postingan. Mungkin tulisan ini juga jawaban atas PR yang diberikan Jiah Al Jafara yang sejak dulu belum bisa saya kerjakan. Mungkin nanti kalau sudah siap akan sayaa kerjakan. Daan… buat semuanya, kenalilah diri anda, karena saya yakin setiap orang memiliki potensi yang menjadikan dirinya hebat. salam sukses. ha ha 😀